Cerita Pendek

Sebait Masa Lalu

Dan kalau saja kau mau  mendengar, sebenarnya aku tengah meronta, menjerit dalam pedihnya kisah yang terulang kembali.

“Ra.. Mmm, kalau orang yang kamu cintai, ternyata sayang atau bahkan cinta pada sahabat kamu. Gimana, Ra?” Ayu tiba-tiba berubah serius.

“Kayak Adri ke Sintia yang kuceritain? Alaah itu mah cerita basi. Udah ah, males bahasnya.” Kataku cemberut. Ayu tampak menimbang sebelum akhirnya dia melanjutkan obrolan kami.

“Tapi Ra, kamu dulu benci gak sama Sintia?”

“Iya sih, sebentar. Tapi yang namanya marah, yang gak enaknya kan gue. Mereka mah mana ngerti perasaan gue. Ada apaan sih ngungkit-ngungkit masa lalu gini?” lo gue mode on ku keluar hanya dengan membahas Adri si Makhluk paling mengesankan di seluruh lembaran putih biruku.

“Kemarin Ilmi bilang sayang sama aku, Ra.” Ayu berkata tegas dan cepat.

Deg.

“Oh.” Kataku.

***

“Naira!” aku menengok ke arah seseorang yang memanggilku di belakang.

“Dandi? Ada apa?” kataku heran, sesampainya dia di sampingku.

“Nih.” Aku menghentikan suapan baso paling enak se-Bandung Raya ini.

“Dari siapa?” aku menerima dengan cepat selembar kertas yang diberikan Dandi. Sebenarnya aku sangat tahu siapa pengirim kertas ini, karena sebelumnya aku tahu hal ini cepat atau lambat akan terjadi.

“Buka aja. Bye.” Dandi menghilang cepat.

Di sudut kamar tepatnya di meja belajar dengan pencahayaan yang cukup terang untuk hari sesenja ini, aku membaca selembar surat darinya. Beberapa menit kemudian kertas itu sudah basah. Kuseka air mataku kasar. Lalu hal terakhir yang kulakukan senja itu adalah meremas lipatan kertas itu seperti aku meremas hatiku sendiri, melemparnya ke tempat sampah sepuluh meter di sampingku. And great shoot!!!

“Apaan sih, basi!”

***

Aku bergegas ke kelas, mengingat draft laporan kerja bidangku tertinggal di atas bangku. Setibanya di depan kelas. Dan WOW.

Dua orang itu tengah akrab bercengkrama dengan asiknya. Suasana kelas masih ramai sampai akhirnya mereka menyadari kedatanganku.

“Hai, Naira!” Ilmi menyapaku. Aku mengangguk cepat. Dan hei.. Apa kabar dunia? Sejak kapan dia bisa menyapaku? Dua tahun setengah lho gue sekolah di sini selama itu kita bertemu pun gak pernah saling sapa. Tepuk tangan hadirin.

“Permisi!” kataku datar melihat jalan masukku masih terhalangi mereka. Kulirik sahabatku, dia tersenyum kikuk. Salah tingkah.

***

“Coba bayangkan! Aku adalah seorang petani, kurawat bungaku dari bunga itu masih berupa tunas. Kusiram, kupupuk, sampai akhirnya tumbuh jadi bunga yang merekah dan merona di bawah pengawasanku sendiri. Lalu apakah ketika di ujung sana aku melihat bunga yang lebih indah dari punyaku, lantas aku akan memetik begitu saja bunga itu? Sayangnya aku bukan orang yang seperti itu…”

Coba bayangkan aku juga seorang petani. Aku merawat bungaku sendiri, menyiraminya, memupuknya, menanti pertumbuhannya di hela napasku, dalam derap langkahku hingga akhirnya tumbuhlah sebatang bunga yang menawan, merekah mekar. Kemudian ketika hendak memetiknya bunga itu sudah ada di tangan orang lain. Tolong bayangkan.

“Aku harap kamu gak membenci sahabatmu. Aku tahu, kamu pasti tahu dia tidak punya salah apapun. Kumohon jangan membencinya. Aku yakin sebenarnya kamu mengerti.”

“Iya.” Kataku. Satu bulir air mataku lolos di hadapan Ilmi.

***

“Naira, ngobrol bertiga yuk?” Silva berdua dengan Ayu menghampiriku yang tengah asik menonton anak laki-laki bermain basket. Kurasa air mukaku seketika berubah, lalu mengangguk.

“Ra, aku mau minta maaf. Aku sama sekali gak bermaksud menorehkan luka yang sama. Sama sekali gak bermaksud mengulang cerita lama kamu. Ini semua di luar kehendakku, Ra. Aku gak bisa mengendalikan perasaanku sendiri. Aku bingung , Ra. Maaf.” Dia, berkaca-kaca matanya.

Aku tersenyum tipis, “Iya.” Kataku.

“Aku gak mau kamu gitu terus sama aku, Ra. Kumohon maafkan aku.”

Lagi. Aku tersenyum, “Iya.” Kataku.

***

“Lucu yah.” Senyum jahil terlukis dari wajah seseorang yang duduk di kananku di atas sofa biru muda, dengan televisi menyala di depan kami.

“Pasti kamu kesel banget, ya?”

Jadi? Dari sekian banyak nama emosi negatif. Yang terbayang di otakmu untuk menerjemahkan perasaanku hanya emosi yang bernama kesel, ya? Aku cemberut. Marah? Iya.

“Sebel, masa aku sama Allah dikasih jodohnya bekas sahabat sendiri, sih?”

Ilmi melotot, “Gak boleh bicara gitu lho. Kamu juga kan bekasnya Linggar.” Ilmi tersenyum penuh kemenangan.

Tapi bagiku. Deg.

Allahu, kata-kata itu menghujam sekali di ulu hatiku. Sedih, sakit, lebih, berkali-kali lebih sakit dari pada dulu Ilmi bilang sayang sama Ayu. Ini lebih. Padahal dulu aku tahu betul haramnya status atau kegiatan bernama pacaran itu.

“Maaf.” Kataku tercekat.

“Tak apa. Kita sama-sama tahu kesalahan kita di masa lalu.” Ilmi tersenyum.

Advertisements
It's Me!

Tentang Biyabil Ailsa

Tentang seorang makhluk Allah yang sangat merindukan Ridho Allah, merindukan kasih sayang Rasulullah SAW, dan juga kerinduan berada dalam lingkaran-lingkaran orang-orang shalihin yang malah teramat kesusahan memerangi hawa nafsunya sendiri – dengan itu kepada para pembaca mohon didoakan untuk selalu bisa mengendalikan nafsu ini.

Tentang perjalanan mencari hikmah dan mimpi mengelilingi dunia men-tafakuri ciptaan Pencipta Maha Agung – mohon didoakan juga untuk selalu mengambil pelajaran, hikmah, dan senantiasa berbaik sangka kepada Allah yang Maha Tahu apa yang terbaik bagi hambanya.

Tentang sebutir manfaat yang ingin kuberikan pada siapapun yang membutuhkan dan berkenan menerima – doakan lagi semoga terhindar dari segala penyakit hati yang pastinya senantiasa mengikuti.

Tentang pencarian atau penantian terhadap seseorang yang  Allah utus untuk memperbaiki diri ini, yang menjadi wasilah taqarrub ilallah – para pembaca mohon doakan agar selalu berada didekat orang-orang yang selalu dekat dengan Allah, yang hatinya selalu terpaut padaNya.